Bagaikan senja yang menyambut kehidupan, bagaikan pelangi yang mewarnai kehidupan, aku adalah seorang pria yang selalu berilusi tentang sebuah permainan. Permainan yang aku mainkan bukanlah permainan tradisional maupun modern, tapi permainan ini cukup sederhana. Cukup aku memainkan permainan ini, dan melihat mainan aku tersakiti secara sadis hingga mati. Dan biasanya mainan aku ialah orang yang telah menyakiti perasaan aku, tapi kebanyakan mainan aku adalah wanita.

Aku menjadi pemain yang sadis ini bukan tanpa sebab. Dulu, jauh sebelum aku berusia 19 tahun ini sering mendapatkan perlakukan yang merendahkan jiwa aku, terutama kaum wanita yang sedari SMP aku selalu direndahkan oleh mereka. Maka, dari itu mainan aku kebanyakan adalah wanita.

Dan masih teringat juga dibenak aku, akan kejadian 1 minggu lalu. Aku, sudah menyelesaikan permainan. Permainan yang aku lakukan waktu itu cukup sadis. Aku, melakukannya karena begitu sangat sakit hati akan perlakuan dia yang telah menduakan cinta aku.

Waktu itu aku ajak dia ketemuan, lalu aku bersikap manis di depan dia dengan sedikit gombalan-gombalan yang senantiasa akan mengalihkan perhatian atas rencana aku. Sehari sebelum ketemu dengan dia, aku sudah membunuh orang yang mencuri hati dia dari aku, aku bunuh pria itu dengan pukulan super aku. Karena, kebetulan aku orang yang punya kekuatan tenaga dalam. Lalu, mayat si pria itu aku potong-potong dan aku bungkus ke dalam kertas nasi. Dan, aku kasih mayat pria itu ke buaya peliharaan aku.

Nah, untuk menghantui dulu pacar aku, aku beri dia sebuah kejutan . Aku, beri dia kado yang setelah ia buka adalah sebuah baju cowo dengan secarik kertas surat.

Ini adalah baju selingkuhan kamu, dan jasadnya sudah dimakan sama buaya peliharaan aku. Dan aku peringatkan, aku paling tidak suka dengan orang yang menghianati aku , seperti halnya dirimu duakan aku. Lalu, aku menatapnya tajam dengan mencengkram kedua bahunya.

Dan tampaknya ia ketakutan dengan apa yang terjadi, sampai dia berkeringat dingin. Tapi, sebelum aku selesaikan permainan aku. Aku, buka bajunya. Lalu, aku ambil pisau yang biasa aku gunakan untuk permainanku. Aku potong kedua tangan ia sehingga menjerit ketakutan. Tapi, karena ilmu yang aku kuasai, ia berteriak sekencang apapun tidak akan ada orang yang mendengarkan teriakannya itu. Lepas itu, aku masih peringatkan dia untuk , "Jangan Pernah Kau Duakan aku" . Dari situ, aku tidak membunuh dia , tapi aku membawanya ke tiang listrik di jalanan dan mengikatnya di sana. Lalu, aku buatkan tulisan di papan yang berisi "AKIBAT AKU MENDUA", dan aku sengaja tidak membunuhnya , karena aku masih ingin dia merasakan rasa sakit yang aku rasakan.

Tamat