Suatu hari aku tamat sekolah dan ingin masuk ke jenjang yang lebih tinggi, aku memilih sekolah lain yang lebih unggul dan tak satu pun dari siswa di sana yang kukenal, namun aku tak menghiraukannya. Ketika sudah terbiasa di sana aku tak mengapa, tapi setelah itu aku bertemu kakak kelas yang mengikuti sebuah eskul basket, ia sangat jago memainkan basket. Suatu ketika aku dan dia tak sengaja berbincang kukira dia adalah cowok yang berbeda hingga saat itu aku jatuh hati. Ternyata tidak, ia sering bilang bahwa ia menyayangiku ternyata dibalik ucapannya ia hanya ingin memerasku. Sungguh kecewa, air mataku membasahi pipiku sendiri, sakit hatiku menyiksa batin dan ragaku. Sungguh aku menyesal mengenal dirinya, benar benar menyesal. Pada siang hari di lapangan aku bertemu dia, cowok yang sering kali meminta maaf namun terus mengulangi kesalahannya, ya dia Aldino, sungguh saat bertemu dirinya saat ini dalam hatiku berkabung begitu banyak kemarahan dan penyesalan. “Andai waktu bisa diputar, saat itu aku akan lebih memilih tak mengenalnya” bisik hatiku. Dia terus memandangku dengan tersenyum, tapi hatiku telah tak bisa tersenyum dengan dirinya. Lagi lagi aku terpukul dengan keberadaannya hingga ku memilih diam di kelas sampai jam pelajaran selesai dan pulang. Aku mencintainya sungguh, tapi mengapa kebencianku tak bisa kuhilangkan untuk dirinya, terkadang cinta dalam hatiku, mampu mengalahkan kebenciaan dalam diriku. “Nindy, ingat kau adalah nindy, cinta tak boleh melemahkanmu” bisiku dalam hati. Dan ya. Akhirnya aku lebih memilih melangkah tanpa mempedulikan masa laluku, kini ku bahagia tanpa melihat ke belakang. ku sadar cinta pada usiaku itu masih cinta yang labil, meski saat itu aku dikhianati dengan kebohongan namun tuhan memperkuat kepercayaanku, ia membantuku mencari sebuah jalan untuk keluar dari gelapnya jalan kesedihan… “I love you And I hate you” “I love you because you always supported me” “I hate you because you lie to me”