"17 Tahun yang lalu, hiduplah sepasang suami istri yang hampir 4 tahun tidak mempunyai keturunan. Dan pada tahun ke 5, mereka menemukan seorang bayi yang berumur sekitar 4 harian di tempat sampah umum dekat Mall di kota Garut. Bayi tersebut waktu ditemukan oleh Pak Deden dan Ibu Susi ini, keadaannya sangat memprihatinkan. Bayi yang kini dinamai Dewi, gabungan dari nama sepasang suami istri tersebut keadaannya waktu itu sedang dikerumuni Lalat lalat modus. Bayi itu hanya menangis menahan gelinya ciuman dari lalat lalat modus yang terus mengerumuninya. Dan ini semua terjadi karena ini adalah ceritaku . Mari teman-teman membaca cerita aku ini".


Pagi yang cerah menyambut , dengan sinar matahari yang cukup bersahabat buat aku bisa terbangun dengan menggeliatkan tubuhku yang mungil ini. Aku pun turun dari ranjangku, dan segera aku bereskan tempat tidurku, supaya terlihat rapih. Ya, maklum kamar seorang gadis itu harus bersih dan rapih. Ucapku dalam hati.

"Dew.. Dew, cepet sini .." panggil ibu aku dari ruang makan.

"Iya.. Bu". Jawabku dengan semangat sembari menuju ruang makan.

Setelah berada di ruang makan. Aku, ibu, beserta Ayah segera menunaikan kegiatan kami seperti biasanya. Ya, sarapan. Pagi itu cukup terasa indah bagiku, karena ibu dan ayah angkatku ini sangat begitu sayang padaku.
Setelah selesai sarapan, aku bergegas ke Kamar Mandi untuk mandi. Pas aku mandi, aku orangnya terbuka lho. Aku, berani telanjang bulat !.. Dari aku buka baju, bh, sampai segitiga pengaman aku lepas semua. Aku basahi tubuh ini dengan air dingin yang membuat diriku bilang "bbrrrzzz".

Setelah selesai mandi, aku segera pakai handuk pink kesayangan aku. Handuk itu begitu eratnya memeluk lekukan tubuh seorang gadis ini, sampai pada waktunya pelukan dari handuk pink itu , aku lepaskan . Karena, aku sudah berada di kamar lagi dan segera untuk memakai baju seragam SMK aku.

20 Menit berlalu, pertanda aku sudah selesai memakai seragam plus dandan dan segera aku berpamitan kepada kedua orang tuaku.

"Ibu, ayah.. Aku berangkat ke sekolah dulu ya, do'a kan putri mu ini semoga dapat ilmu yang bermanfaat". Ucapku, pada mereka sambil mencium tangannya.

"Aminn, ibu dan Ayah akan senantiasa mendoakanmu Dewi". Ucap ibu dan ayah sembari bergantian mengecup keningku.

Setelah itu aku segera berjalan menuju sekolah. Lalu hampir sekitar 10 menittan aku tiba juga di sekolah, karena memang rumah dan sekolah yang jaraknya dekat, jadi bisa cepat deh.

Setelah sampai di sekolah, aku segera menuju kelas. Di perjalanan menuju kelas, tiba-tiba aku melihat Jupri. Aku, begitu kaget melihatnya. Bagaimana, tidak? Jupri sudah meninggal 1 bulan yang lalu.

Jupri adalah teman sekelas aku yang mati bunuh diri lompat dari lantai 2 sekolah. Dia merasa dirinya selalu salah, karena hampir kebanyakan ia selalu dibully oleh teman-teman, bahkan aku juga pernah ngatain dia.

"Heyyy..", Tiba-tiba ada yang menepuk pundak aku, sampai aku kaget. Lalu aku toleh kebelakang, dan ternyata si Lalat Modus.

"Kenapa lho, kamu bengong ?? ..". Tanya Lalat Modus.

"Ahh gak, ngapain sih kamu ! Mau modus ya ?? Dasar.. Lalat Modus !! " . Ujar aku sembari menatapnya dengan tajam.

"Ihhh.. Fitnah, aja sih kamu ! Dosa, lho". Grutunya yang tidak terima ucapan aku, dan tiba-tiba dia menjitak kepala aku sembari lari menuju kelasnya.

Walaupun begitu, aku hanya membiarkannya. Lalu, karena aku masih kepikiran sama si Jupri, akhirnya aku coba mendekat ke tempat dimana, Jupri tadi berada.

Dan begitu anehnya, ketika aku berada di tempat si Jupri berada, Dia ternyata tidak ada. Lalu aku pun merasakan bulu kuduk aku mulai merinding. Dan akupun segera berlari ke kelas.

Sesampainya di kelas, dan baru saja duduk . Yaelah, ternyata dia sudah masuk. Dia adalah guru Matematika yang menyebalkan. "uhh.. Pagi-pagi udah di suguhin sarapan pelajaran Matematika". Grutu aku dalam hati.

Tapi, walaupun begitu aku tidak begitu perduli akan pelajaran pagi itu. Karena aku, terlintas lagi akan sosok Jupri tadi.

2 Jam Kemudian

Akhirnya pelajaran yang di gurui oleh guru yang menyebalkan itu, selesai juga. Aku segera minta izin sama ketua kelas , untuk pergi ke wc.

Setelah mendapat izin, aku bersama sahabat aku, Sintia. Segera berjalan menuju WC. Tapi, di perjalanan aku melihat lagi sosok Jupri. Tepat, 5 Meter dari sampingku yang kini telah terhenti langkahnya . Jupri sedang berdiri dengan memakai seragam yang rapih dan muka bercahaya. Lalu aku segera mendekatinya dan memberanikan diri , lalu aku menarik tangan Sintia, dan segera menghampirinya.

Selanjutnya