Ini bukanlah kisah tentang Thor. Iya, Thor si Dewa petir dalam cerita legenda di Eropa utara. Di sini saya akan menceritakan kepada kalian kisah Al si superhero pemalu yang tidak melegenda. AL Putra Petir, itulah nama lengkapnya. Mungkin bagi beberapa orang akan menganggap bahwa kata “Petir” dalam namanya diambil dari nama ayahnya. Namun sebenarnya itu bukan diambil dari nama ayahnya, tetapi diambil dari kemauan ayahnya. Ayahnya memang sengaja memberi nama itu disebabkan oleh terinspirasinya dari kisah legenda Thor, sang dewa petir dari Asgard.

Dengan nama itu, ayahnya berharap Al menjadi superhero yang membasmi kemiskinan bagi keluarganya. AL lahir di kota Garut. Entah kebetulan atau tidak, tapi nyatanya ini kebenaran, selain nama yang hampir tidak mirip dengan Thor, tempat lahir pun hampir mirip. Bila Thor lahir di kota Asgard, Norwegia, Thoriq lahir di ASGAR akronim Asli Garut, iya, kota Garut, Indonesia.

Al berzodiak Leo dengan golongan darah yang O. Ketika kelas 4 SD, Al sempat kecewa saat pelajaran Biologi mengenai golongan darah. Gurunya memberitahu bahwa golongan darah O hanya dapat mendonorkan darahnya ke orang yang memiliki golongan darah Y dan O. Mendengar itu Al lalu bertanya kepada gurunya.

“Kenapa cuma bisa ke orang yang golongan darah O dan Y saja? Kalau didonorkan ke B atau A kenapa emang, bu?”. Ibu guru tersenyum mendengar pertanyaan dari Al.

“Bila darah O didonorkan kepada orang yang memiliki golongan darah B atau A, nanti darah orang yang nerimanya jadi beku”. Mendegar jawaban tersebut Al lansung berkata dalam hatinya “Ah! Coba saja kalau golongan darahku A, aku akan bagi-bagiin ke orang yang lagi sakit dan butuh darah. Juga ke orang yang darahnya dihisap vampir dan nyamuk”. Jiwa superheronya memang sudah terlihat sejak kecil.

Kini Al sudah berusia 18 tahun. Dia sudah dibantu oleh wanita yang mau menjadi istri untuknya agar statusnya menjadi sudah berkeluarga. Keluarganya kecil, dia hanya memiliki satu orang anak yang berusia 5 tahun, berjenis kelamin laki-laki dengan bola matanya yang berwarna cokelat, mirip seperti Al.

Untuk mewujudkan harapan ayahnya dengan nama yang ada padanya, yaitu menjadi superhero pembasmi kemiskinan bagi keluarganya, Al rela menjadi superhero pemalu. Pahlawan dengan palu sebagai senjata pamungkasnya. Lagi-lagi mirip seperti Thor dalam legenda skandinavia. Namun, bila dalam kisah Thor palu yang dibawanya itu dapat mengeluarkan listrik untuk melawan kejahatan, maka palu milik Al dapat mengeluarkan uang untuk melawan kemiskinan, walau tidak secara langsung.

Al bekerja sebagai tukang ketok magic di bengkel mobil tetangganya. Dengan menyihir body mobil-mobil yang penyok menggunakan senjata pamungkasnya, yaitu palu, mengetok-ngetok area bodi mobil yang penyok itu menjadi datar seperti sebelumnya. Tidak mudah memang, namun saat ini hanya itu cara yang dia tahu untuk membasmi kemiskinan bagi keluarganya.

Disela kesibukannya menjadi superhero pemalu, Al selalu menyempatkan waktunya untuk keluarganya, walau hanya sekedar berkumpul dan bercanda bersama anak dan istrinya. Karena dia tahu bahwa istri dan anaknya tidak hanya butuh uang, mereka juga membutuhkan waktu bersama suami dan ayahnya untuk mengisi waktu yang tersisa bersama-sama.

“Ayah! Aku tahu hewan apa yang lehernya panjang”. Anaknya bertanya.

“Iya? Apa?”.

“Jerapaaahhhhhh, ayaahhhhh”.

“Bukan”.

“Eh? Kok bukan? Terus apa?”.

“Ular kan leher semua”.

Tamat