Hari itu bukan hari kiamat, melainkan adalah hari Senin, dimana aku sebagai pelajar dan semua siswa-siswi lainnya beserta para guru, dan staf sekolah yang aku hormati akan melaksanakan upacara bendera. 30 Menit upacara telah dilaksanakan, dan aku pun segera menuju toilet. Sesampainya di toilet aku lupa, kalau aku ke toilet mau apa? Tanya aku dalam hati pada diri sendiri. Kan kelas aku berada di kelas 12 TKJ (Tenaga Kerja Jepang).

Singkat cerita aku pun menepuk jidat teman aku, karena kalau tepuk jidat sendiri, kan sakit. Yaudah aku balik ke kelas. Dan tak sampai 1 jam, aku pun sampai di kelas. Aku duduk di kursi, aku buka resleting tas, dan ku ambil buku beserta pensil dan ku taruh di atas meja. Lalu, aku duduk manis sambil sikap sempurna pertanda sang Ketua Murid siap untuk memimpin salam , karena akan ada guru masuk.

Setelah guru masuk, aku tersenyum manis padanya. Lalu, guru yang bernama Hamba Alloh tersebut, membuka tasnya. Dan, ku kira yang diambil guru tersebut adalah buku pelajaran beserta spidol, eh ternyata dia mengeluarkan Seongok gunting.

"Hahh.. Apahh". Pertanda ekspresi lebay kami, karena tau kalau guru tersebut mengeluarkan gunting pasti akan kena razia rambut.

Karena kami merasa takut, kami para siswa cowo segera merapikan rambut dan juga berdoa kepada yang maha kuasa agar diberikan perlindungan dari ketakutan kami. Tapi, apalah daya teman aku yang paling depan, rambutnya sudah tergunting oleh guru tersebut. Satu per satu, para siswa di potong rambutnya, hingga terakhir giliran aku yang di potong rambut.

Aku pun kesal karena rambutku di potong oleh guru tersebut, lalu aku murka karena ketidak adilan ini, semua ini mengganggu konsentrasi kami dalam belajar. Lalu aku segera keluar dari kelas itu sambil mengenakan topi.

Aku izin keluar untuk pergi ke warung, lalu aku beli gas elpiji 3kg. Lalu, aku kembali ke sekolah dan ku ledakan sekolah aku sampai hangus. Semua orang berlarian karena panik, dan sampai-sampai ada yang jatuh pingsan, bahkan ada yang sampai jatuh cinta. Setelah merasa puas, lalu aku pulang ke rumah untuk istirahat. Dan, sesampainya di rumah aku tidur siang.

Hampir 3 Jam aku tidur siang, eh ada yang ketuk-ketuk pintu. Aku pun membuka pintunya, dan ternyata yang ketuk pintu adalah Polisi.

"Selamat siang, dengan saudara Agung?''. Tanya pak Polisi pada aku.

"Iya, saya sendiri". Jawab aku dengan murah senyum, diskon 5%.

"Anda, kami tahan! Karena anda telah meledakan sekolah sehingga terbakar.. Ikut kami".

"Oh gitu ya pa, baik saya akan ikut bapak".

Sampai dengan saat ini, 7 tahun Aku mendekam dalam penjara. Itulah cerita aku menjadi tahanan. Tapi, cerita aku belum selesai sampai disitu saja. Sehari setelah di tahan, aku melarikan diri dari sel penjara.

Aku berlari bukan karena takut dipenjara, melainkan aku bosan ditahan di tempat yang sepi. Lalu, aku pindah ke sel yang lain yang di huni banyak narapidana kelas kakap.

Aku masuk, dan semua tatapan tajam tertuju pada aku, sampai ada satu orang yang pikir aku bahwa dia adalah pemimpin dalam sel tersebut. Dia menghampiri aku, dan bertanya kenapa kamu bisa masuk ke sini. Lalu, aku bilang pada semua orang, bahwa aku masuk penjara ini karena tidak bisa keluar dari penjara.

Karena alasan aku yang konyol, akhirnya aku di kroyok oleh mereka sampai-sampai aku babak belur dan mengalami patah tulang. Setelah kejadian itu, aku tambah murka! Lalu, aku pun berteriak dengan sekencang-kencangnya sambil berkata "TOLOOONGGGG..!!".

-Tamat-


Jangan lupa share, dan komentar cerpen ini. Baca juga cerpen karangan saya yang lainnya.